Di tengah berbagai sorotan terhadap kinerja pemerintahan Presiden Jokowi, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (LHS) membuat langkah kontroversi. Menambah ingar-bingar diskursus keagamaan dan jagat perpolitikan Tanah Air. Pada peringatan Isra Miraj di Istana Negara, Jumat, 15 Mei 2015, seorang qari melantunkan bacaan Al-Quran dengan cengkok atau langgam Jawa.

Gagasan ini sebelumnya dilontarkan Menag saat menghadiri Milad ke-18 Bayt Al-Qur`an dan Museum Istiqlal di Jakarta. Ia mengatakan, langgam bacaan Al-Quran khas Nusantara, dengan kekayaan alam dan keragaman etnisnya, menarik untuk dikaji dan dikembangkan. Tentu saja tetap memperhatikan kaidah ilmu tajwid. Langkah 'berani' LHS ini sontak menuai kontroversi. Tujuan mulia untuk menjaga dan memelihara tradisi Nusantara dalam menyebarluaskan ajaran Islam di Tanah Air, tak membuat surut tuduhan Pemerintah meliberalisasi Islam. Pemerintah dinilai kurang kerjaan.

Sebelum itu, dunia Islam pernah dibuat heboh akibat ulah kreatif salah seorang putra Indonesia. Avip Priatna, salah seorang konduktor terbaik Indonesia dalam khazanah musik klasik, menggelar konser orkestra ''The Symphony of My Life'' pada 3 Desember 2011.Dalam konser yang diiringi musik oleh Batavia Madrigal Singers (BMS) dan Paduan Suara Mahasiswa Unika Parahyangan, Avip mengalunkan bacaan QS. Al-Hujurat: 13 yang menjelaskan keragaman suku dan bangsa diiringi irama yang mengharukan dengan dinamika bunyi yang menggetarkan.

Pemilihan ayat Al-Quran ini, menurut Avip, upaya untuk meruntuhkan kesan yang serba-Barat dalam ranah simfoni.Musik simfoni bisa diciptakan sebagai musik untuk semua golongan, walau pada zaman dulu orkestra dimainkan bila ada undangan dari kerajaan dan kebanyakan dimainkan oleh gereja,'' kata pria yang mengaku kiprahnya sebagai konduktor banyak terinspirasi oleh Leonard Bernstein dan Simon Rattle itu, ketika diwawancarai tim peneliti Lajnah Pentashihan Al-Quran Kemenag.Beberapa ulama dunia Islam resah. Hal itu tergambar dalam nota diplomatik salah satu perwakilan negara Arab di Jakarta bertanggal 17 Juli 2014 yang meminta penjelasan kepada Kementerian Agama.

Polemik bacaan Al-Quran langgam Jawa ini muncul bersamaan dengan perhelatan Musabaqah Al-Quran tingkat Internasional ke-32 di Teheran, Iran, 15 Mei 2015. Delegasi dari 85 negara, termasuk Indonesia, berlomba menampilkan hafalan dan keindahan bacaan. Ada yang menjadi kesepakatan para juri dalam menilai keindahan bacaan, yaitu nada dan irama (naghamat) yang dikenal dalam beberapa maqamat (Bayati, Shaba, Sikah, Jiharkah, Hijaz, Rost, dan Nahawand).

Adalah Ubaidillah (w. 79 H), putra salah seorang sahabat Nabi, Abu Bakrah, yang pertama kali membaca Al-Quran dengan nada dan irama dalam maqamat seperti saat ini. Meski banyak para sahabat Nabi diketahui memiliki suara merdu dalam bacaan Al-Quran, dan Nabi menganjurkan untuk memperindah bacaan, tidak diketahui persis nada dan irama bacaan mereka. Klan Asy`ari adalah salah satu yang dikenal memiliki suara merdu. Nabi Muhammad SAW, senang mendengar bacaan Abu Musa al-Asy`ari, bahkan memujinya sebagai orang yang diberi "seruling" Nabi Daud karena keindahan suaranya.

Nabi Daud, seperti diriwayatkan Ibnu Abbas, dikenal sering melantunkan pujian dan doa dalam Zabur hingga mencapai tujuh puluh nada dan irama (lahn) secara bervariasi. Demikian pula Umar bin Khattab sering meminta Abu Musa untuk memperdengarkan bacaannya yang indah. Ia mengatakan, ''siapa yang bisa melantunkan Al-Quran dengan lagu seperti Abu Musa, lakukanlah''.

Ulama mazhab yang dikenal senang mendengarkan lagu bacaan Al-Quran, Abu Hanifah dan al-Syafi`i. Seperti dikutip Mukhtashar al-Muzani, Imam Syafi`i mengatakan, dalam bentuk (langgam) apa pun seseorang boleh melantunkan Al-Quran. Berbeda dari mereka, Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal sebaliknya. Melagukan bacaan Al-Quran, menurut mereka, dikhawatirkan merubah bacaan seperti panjang-pendeknya bacaan dan bunyi huruf (makhraj). Hadis Nabi yang memperingatkan agar tidak membaca Al-Quran dengan nada (lahn), seperti ahlul kitab dan orang fasik (HR. Al-Thabrani), juga menjadi sandaran. Meski banyak ulama menilai hadis tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya.

Salah baca karena pengaruh lagu, tercatat pertama kali dilakukan oleh al-Haitsam dan Ibnu A`yun, qari pada abad ke-2 hijriah. Dalam bacaan, keduanya sering terdengar mengubah huruf, seperti limasakin menjadi limiskin, yang berpotensi mengubah redaksi dan merusak arti. Pakar hadis, Ibnu Hajar al-Asqalani, yang mensyarah kitab Shahih al-Bukhari, memberi jalan tengah. Menurutnya, memperindah bacaan Al-Quran sangat dianjurkan. Tetapi hendaknya memperhatikan aturan baca (kaidah tajwid) agar terhindar dari kesalahan. Alasan inilah yang mendasari Lembaga Fatwa Mesir (Dar al-Ifta) melarang lantunan Al-Quran dengan lagu bila ternyata bacaan tersebut tidak sesuai kaidah. Para ulama sepakat, jika bacaan dengan lagu itu melanggar kaidah ilmu tajwid dan qira'at, tidak diperbolehkan.

Fenomena menyimpang karena lagu bacaan diidentifikasi Mustafa Shadiq Rafi`i, seorang sastrawan pengkaji i`jaz Al-Quran asal Mesir, dalam beberapa bentuk. Pertama, at-Tar'qish, sengaja berhenti pada huruf mati, namun menghentakkan bacaan pada huruf hidup secara tiba-tiba, seakan-akan sedang melompat atau berjalan cepat (meliuk-liuk seperti penari). Kedua, at-TahzOn,membaca dengan mimik atau gaya yang dibuat sedih atau hampir menangis yang bertujuan semata-mata sebagai daya tarik bagi pendengar. Ketiga, at-Tar'id, mengalunkan suara yang terlalu bergetar sehingga seperti suara orang kedinginan atau kesakitan. Keempat, at-Tathrib, mendendangkan dan melagukan Al-Quran sehingga membaca panjang (madd) bukan pada tempatnya, atau menambahnya bila kebetulan pada tempatnya.

Penemuan tujuh bentuk nagham terkait erat dengan penghayataan masyarakat muslim terhadap pesan-pesan Al-Quran di beberapa wilayah pada masa awal Islam. Setiap wilayah memiliki kekhasan, seperti nada Bayati yang lahir dari sebuah keluarga al-Bayati di Irak; Nahawand, sebuah kota di Iran; Hijaz, sebuah wilayah di Jazirah Arab; Rost dan Sika yang berasal dari bahasa Persia.

Langgam tersebut mengekspresikan pesan Al-Quran yang ingin disampaikan. Misal, langgam Shaba, menggambarkan suasana rohani dan emosi yang menggelora, sehingga sangat tepat untuk ayat-ayat azab dan kesedihan. Sebaliknya, langgam Nahawand penuh nuansa kegembiraan, sehingga tepat untuk melantunkan ayat tentang surga dan nikmat karunia Allah lainnya. Dasar penggunaan nagham, seperti kata qari terkemuka asal Mesir, Al-Thablawi, adalah makna bukan sekadar rasa atau karsa.

Terkait dengan langgam Jawa, atau lainnya di Nusantara, meski tak ada larangan untuk digunakan dalam melantunkan Al-Quran selama memperhatikan kaidah bacaan, masih perlu meniti jalan panjang. Apalagi untuk menjadikan Islam Nusantara sebagai oasis baru bagi dunia Islam dan masyarakat dunia pada umumnya, melalui bacaan Al-Quran khas Nusantara, seperti harapan Menteri Lukman.

Al-Quran bukan sekadar untuk dilantunkan dengan langgam apa pun, melainkan untuk diamalkan setelah dipahami dan dihayati pesan-pesannya. Langgam apa pun harus bisa menjadi ekspresi dan gambaran nuansa kebatinan pembaca Al-Quran. Kita merindukan bacaan yang membuat hati terenyuh dan air mata bercucuran seperti banyak dialami para sahabat dan ulama al-salaf al-shalih.

Perpaduan langgam Jawa dengan ilmu tajwid juga belum cukup melegitimasi keabsahannya. Tajwid sebagai ilmu untuk memperbagus bacaan Al-Quran memang tidak boleh diabaikan. Tetapi yang tidak kalah pentingnya, dan ini menjadi tujuan tertinggi diturunkannya Al-Quran, adalah tajwid amalan, dalam arti memperbagus dan memperindah sikap dan perilaku keseharian sebagai wujud pengamalan ajaran Al-Quran.

Perhatian kita terhadap tajwid dan tahsin bacaan tidak boleh mengalahkan perhatian terhadap tajwid amalan. Dalam konteks ini, pidato Presiden Iran, Hasan Rouhani, saat membuka Musabaqah Al-Quran di Teheran, yang mengingatkan pentingnya pengamalan terhadap nilai-nilai Al-Quran, selain hafalan dan indahnya bacaan, menemukan relevansinya. Yah, saatnya kita beralih dari sekadar langgam dan tajwid bacaan menuju tajwid amalan.

(Muchlis M. Hanafi)

Dewan Pakar Pusat Studi Al-Qur`an (PSQ) Jakarta, Sekjen IAAI Indonesia

PhD dari Universitas Al-Azhar Kairo


Sumber :GATRA.COM

BERITA KEISLAMAN

IMAGE Muchlis M. Hanafi: Langgam Bacaan Menteri Lukman
Friday, 22 May 2015
Di tengah berbagai sorotan terhadap kinerja pemerintahan Presiden Jokowi, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (LHS) membuat langkah kontroversi. Menambah ingar-bingar diskursus keagamaan dan jagat perpolitikan Tanah Air. Pada peringatan Isra Miraj di Istana Negara, Jumat, 15 Mei 2015, seorang qari...

Profil IAAI Indonesia

Hubungi Kami

 

Alamat Kantor

Kampus II PSQ Jl. Raya Ring Road Selatan, South City. Pondok Cabe. Tangerang Selatan. Kode Pos 15418

Telpon : +6281585993344   +6282260099292
Email : info@waag-azhar.or.id
Website : www.waag-azhar.or.id
  : www.maba.waag-azhar.or.id
  : www.conference.waag-azhar.or.id
Go to top