Pada hari kelima keberadaannya di Indonesia,  Kamis, 31 Maret 2016, Syaikh Ibrahim Luthfy al-Said bersama IAAI Indonesia memenuhi undangan Dekan Fakultas Dirasat Islamiyah, Dr. Hamka Hasan untuk memberikan ceramah umum di fakultas yang ia ampu. Pada kesempatan ini, Dr. Ahmadi Usman Sirathan yang bertidak sebagai moderator meminta Syaikh Ibrahim untuk menanggapi isu kepemimpinan non Muslim yang tengah ramai dibicangkan oleh masyarakat Indonesia.

Dalam ceramah di hadapan mahasiswa FDI tersebut Syaikh Ibrahim menggaris bawahi beberapa hal terkait isu tersebut. Beliau menegaskan bahwa isu ini merupakan persoalan khilafiyah dimana ulama sejak dahulu sudah berbeda pendapat, sehingga umat jangan menganggapnya sebagai persoalan kontemporer. Beliau sendiri sepakat dan tegas bahwa pemimpin setingkat presiden dalam suatu negara yang mayoritas muslim harus dipimpin oleh muslim. Akan tetapi untuk tingkat menteri, gubernur, dan pada wilayah yang lebih sempit, Syaikh Ibrahim lebih cenderung pada pendapat Al-Mawardi  yang tertuang dalam karyanya al Ahkam as Sulthaniyah.

Mawardi sendiri membagi kekuasaan dalam dua hal yaitu, tafwid dan tanfidz. Untuk kekuasaan tafwid yang bekerja pada ranah hukum (hakim) dan pengatur regulasi, Mawardi mutlak mensyaratkan Islam dan cakap dalam perkara keagamaannya. Akan tetapi untuk kekuasaan tanfidz yang cakupan kerjanya yaitu pelaksana atas apa yang dirumuskan oleh tafwid, maka tidak ada syarat Islam. Tidak disyaratkannya Islam dalam kekuasaan tanfidz ini mengingat dalam pelaksanaanya ia harus tunduk pada dustur, Undang-undang berserta turunannya yang tidak dapat diingkari. Kedudukannya sebagai tanfidz dalam suatu pemerintahan tidak lain sebatas jembatan antara rakyat dan konstitusi. Sehingga ia tidak bisa membuat kuasa sendiri atas kebijakannya dan kekufurannya. Sementara dalam konteks ke-Indonesiaan, Undang-undang Dasar 45 dan Pancasila tidak terkandung di dalamnya suatu aturan yang bertentangan dengan Islam.

Meskipun pendapat Syaikh Ibrahim lebih cenderung pada kebolehan kepemimpinan non Muslim atas Muslim pada tingkat di bawah pemimpin negara, akan tetapi pada konteks demokrasi pada masa-masa mendatang, ia mengimbau kepada masyarakat Islam di Indonesia untuk mempersiapkan calon-calon pemimpin dari kalangan Islam. Bagaimanapun, sebagaimana ia sampaikan bahwa hal ini merupakan tanggung jawab kita semua sebagai umat Islam.

Pernyataan Syaikh Ibrahim di atas memang bisa jadi multi tafsir. Bisa jadi kesepakatannya dengan Al Mawardi yang ia maksud hanya dalam konteks kepemimpinan non-Muslim yang saat ini sedang memimpin adalah sah. Sementara pada pesta demokrasi mendatang umat Islam dianjurkan untuk memilih pemimpin muslim. Akan tetapi, penafsiran yang lain juga bisa dipahami bahwa Umat Islam boleh memilih pemerintah non-Muslim selagi tidak ada diantaranya yang dinilai dapat mengemban amanah dengan baik. Namun di saat yang sama kita harus intropeksi diri dan menyiapkan generasi-generasi Islam untuk menjadi pemimpin yang amanah di masa mendatang. Wallahu a’lam bi as Sawab. (M. Jamzuri)

 

BERITA KEGIATAN ALUMNI

IMAGE Gantikan MQS, TGB Ketua Umum Alumni Al-Azhar
Friday, 20 October 2017
REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Kegiatan Multaqa Nasional IV Alumni Al Azhar Mesir di Islamic Center, Nusa Tenggara Barat (NTB) memasuki sesi pemilihan ketua yang akan mengemudikan Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) Cabang Indonesia pada Rabu (18/10) malam.Ketua Alumni Al Azhar Mesir...
IMAGE Presiden Apresiasi Kiprah Al Azhar dalam Moderasi Islam
Friday, 20 October 2017
REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Presiden Joko Widodo (Jokowi)  menutup  Konferensi Internasional dan Multaqa Nasional IV Alumni Al Azhar Mesir. Dalam kesempatan itu, Presiden mengapresiasi kiprah Al Azhar Mesir dalam moderasi Islam.Menurut Presiden, kedatangannya ke NTB tidak sekedar untuk menutup...
IMAGE Menag Pada Multaqa: Kontribusi Alumni Al Azhar Luar Biasa Bagi Indonesia
Thursday, 19 October 2017
REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengapresiasi penyelenggaraan Konferensi Internasional dan Multaqa IV Alumni Al Azhar Cabang Indonesia di Islamic Center Nusa Tenggara Barat (NTB). Apalagi, kata dia, alumni Al Azhar memiliki peranan besar dalam kemajuan...
IMAGE Mataram Gelar Konferensi Internasional Alumni Al Azhar
Wednesday, 18 October 2017
Mataram - Ibukota Nusa Tenggara Barat, Mataram, menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Alumni Al Azhar, yang diikuti 400 peserta dari 15 negara.Konferensi ini digelar pada hari Rabu (18/10/2017) dan berlangsung selama dua hari di Islamic Center NTB. Konferensi bertema "Moderasi Islam Dimensi...
IMAGE PERWAT dan IAAI Indonesia Gelar Seminar Dakwah di Era Globalisasi
Monday, 01 May 2017
Persatuan Wanita Alumni Timur Tengah (PERWAT) bersama IAAI Indonesia menggelar seminar bertajuk Dakwah di Era Globalisasi. Kegiatan bersama yang dilaksanakan pada Sabtu, 29 April 2017 ini dilaksanakan di Aula Bayt Al-Qur’an Taman Mini Indonesia Indah Jakarta Timur. Dihadapan sekitar 300 peserta...
IMAGE Rakornas April 2017 Pengurus IAAI Indonesia Seluruh Indonesia; Ini Yang Dibahas
Monday, 10 April 2017
Pengurus pusat IAAI Indonesia bersama pengurus kantor cabang seluruh Indonesia kembali menggelar rapat koordinasi Nasional (Rakornas) pada 7 dan 8 April 2017. Rakornas kali ini kembali di gelar di Swiss-Belhotel Pondok Indah Jakarta Selatan. Setidaknya 30 pengurus organisasi resmi keluarga besar...

Profil IAAI Indonesia

Hubungi Kami

 

Alamat Kantor

Kampus II PSQ Jl. Raya Ring Road Selatan, South City. Pondok Cabe. Tangerang Selatan. Kode Pos 15418

Telpon : +6281585993344   +6282260099292
Email : info@waag-azhar.or.id
Website : www.waag-azhar.or.id
  : www.maba.waag-azhar.or.id
  : www.conference.waag-azhar.or.id
Go to top