Prof. Dr. Ahmed el-Tayeb, Syaikh Al-Azhar
Pengantar

Jihad (Arab: jihâd) memiliki keutamaan yang besar dalam Islam dan mencakup semua aspek kehidupan. Hanya saja, memang, terdapat perbedaan pendapat tentang konsep dan makna terma jihâd di dalam Islam. Artikel ini berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Apa yang dimaksud dengan jihâd? Apa yang membedakan jihâd dengan qatl dan qitâl? Apa hukum qatl dan qitâl? Apakah hukum jihâd bersifat individu (fardh ‘ayn) atau kolektif (fardh kifâyah)?

Kapankah jihâd menjadi wajib bagi umat Islam? Apakah jihâd disyariatkan untuk mempertahankan diri (difensif) atau untuk menyerang (agresif)? Apa saja faktor-faktor yang membolehkan umat Islam memerangi orang lain? Ketika seseorang menolak agama Islam, apakah sikap itu disebut sikap kufur atau sikap memusuhi? Apa pula perbedaan antara jihâd dan harb (perang). Dan lain-lain seputar fakta tentang jihad.

Definisi Jihad

Secara bahasa, kata jihâd (‘berjuang’) berarti “mengerahkan segala daya dan kemampuan, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan”. Dalam terminologi syariat, definisi yang paling mencakup agaknya adalah apa yang dikemukakan oleh Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah, bahwa jihâd adalah “Mengerahkan segala daya, yakni kemampuan, dalam mencapai sesuatu yang dicintai oleh Allah Yang Mahabenar”. Di tempat lain, Ibn Taymiyah mengatakan, “…. Itu karena jihâd pada hakikatnya adalah mengerahkan daya upaya dalam rangka mencapai apa yang dicintai oleh Allah swt. seperti beriman, beramal saleh, dan dalam rangka mencegah apa yang tidak disukai oleh Allah seperti sikap kufur, fasik, dan maksiat.”

Pengertian seperti ini mencakup segala bentuk upaya keras (atau perjuangan) yang dilakukan oleh seorang Muslim. Jihad dalam pengertian ini mencakup upaya keras seorang Muslim untuk melakukan ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan manjauhi larangan-Nya. Juga mencakup upaya keras mengajak orang lain –baik Muslim maupun non-Muslim– untuk patuh kepada Allah, di samping juga termasuk upaya keras dalam memerangi orang-orang kafir demi meninggikan kalimat Allah (li i‘lâ’i kalimatillâh), dan sebagainya. Oleh karena itu, kata jihâd sering dibatasi dengan frasa fî sabîlillâh (di jalan Allah) yang merupakan syarat agar sebuah jihad dinilai sesuai dengan syariat. Pembatasan “jihad” dengan “di jalan Allah” ini mengeluarkan semua upaya keras yang dilakukan seseorang tetapi bukan untuk sesuatu yang disukai oleh Allah.

Keutamaan Jihad di Jalan Allah

Cukup banyak teks-teks keagamaan yang menyebutkan keutamaan jihad di jalan Allah, termasuk pahala besar yang diterima oleh seseorang yang melakukannya. Berikut ini beberapa di antaranya, bukan untuk membatasi, tetapi sebagai contoh.

1. Jihad di jalan Allah adalah perniagaan yang menguntungkan

Allah swt. berfirman: Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta, mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung. (QS at-Taubah [9]: 111).

2. Pahala besar yang didapat oleh orang-orang yang bertahan (murâbithûn) dalam gua untuk berlindung dari musuh.

Diriwayatkan dari Salman bahwa ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Bertahan (yakni tetap berada dalam posisi dalam peperangan) sehari semalam lebih baik daripada puasa dan salat malam satu bulan. Jika ia (yang bertahan itu) meninggal dunia, pahala amal yang telah ia lakukan tetap mengalir, ia tetap diberi rezeki, dan dibebaskan dari fitnah(yakni siksa kubur).

3. Keutamaan Berjaga di Jalan Allah

Diriwayatkan dari Raihanah ra. bahwa ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Api neraka diharamkan bagi mata yang menangis dan meneteskan air mata karena takut kepada Allah, dan api neraka diharamkan pula bagi mata yang berjaga di jalan Allah.’

Dalam hadis lain diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. bahwa ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Ada dua mata yang tidak disentuh api neraka. Yaitu, mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang tidak tidur karena berjaga-jaga di jalan Allah.’

4. Jihad di jalan Allah tidak setara dengan apa pun

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa ia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, ‘Tunjukkan aku suatu perbuatan yang sebanding dengan jihad.’ Rasulullah saw. berkata, ‘Aku tidak menemukan.’ Lalu beliau bersabda, ‘Apakau kamu mampu –jika seorang mujahid keluar [untuk berjihad]– masuk ke dalam masjid lalu melakukan salat tanpa henti dan puasa tanpa berbuka?’ Orang itu menjawab, ‘Siapa yang mampu melakukan itu?’”

Tingkatan Jihâd

Ada empat tingkatan jihad di jalan Allah, yaitu jihad (berjuang) melawan hawa nafsu sendiri, berjuang melawan setan, berjuang melawan orang-orang kafir dan munafik, dan berjuang melawan pelaku ketidakadilan, pelaku bid’ah, dan pelaku kemunkaran.

1. Berjuang melawan hawa nafsu

Yang ini pun terbagi menjadi empat, yaitu: a) berjuang melawan hawa nafsu dalam belajar agama dan tuntunan agama; b) berjuang melawan hawa nafsu dalam melaksanakan apa yang sudah kita ketahui; c) berjuang melawan hawa nafsu dalam mengajak orang kepada kebenaran agama dan mengajarkan orang yang belum tahu, dan d) berjuang melawan hawa nafsu untuk sabar dalam menghadapi kesulitan-kesulitan dakwah ke jalan Allah, kejahatan orang, dan bersabar atas itu semua karena Allah.

2. Jihad melawan setan

Jihad atau berjuang melawan setan ada dua tingkatan, yaitu a) jihad atau berjuang melawan setan ketika membisikkan keraguan dalam keimanan, b) berjuang melawan setan ketika mendorong kita untuk mengikuti nafsu syahwat dan keinginan-keinginan buruk lainnya.

Jihad yang pertama setelah keyakinan, dan jihad yang kedua setelah kesabaran. Allah swt. berfirman: Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami. (QS As-Sajdah [32]: 24). Setan itu sendiri merupakan musuh yang paling buruk bagi manusia. Allah swt. berfiaman: Sungguh, setan itu musuh bagi kamu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS Fâthir [35]: 6).

3. Berjihad atau berjuang melawan orang-orang kafir dan munafik

Berjuang melawan orang kafir dan orang munafik juga terdiri atas empat tingkatan, yaitu: a) berjuang dengan menggunakan hati, b) berjuang dengan menggunakan perkataan, c) berjuang dengan menggunakan harta kekayaan, dan d) berjuang dengan menggunakan tangan atau kekuatan fisik.

Berjihad melawan orang-orang kafir lebih khusus dilakukan dengan kekuatan fisik, dan berjihad melawan orang munafik lebih khusus dilakukan dengan perkataan.

4. Berjihad melawan pelaku ketidakadilan, pelaku bid’ah, dan pelaku kemunkaran, itu ada tiga tingkatan, yaitu a) dilakukan dengan kekuatan (tangan, fisik, senjata, dsb.) jika mampu melakukannya, b) jika tidak mampu, dilakukan dengan perkataan, c) jika tidak, dilakukan dengan hati.

Dalam hal ini, diriwayatkan dari Abu Sa’id ra. dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa di antara kamu melihat kemunkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan perkataannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.

Jadi, secara keseluruhan, ada tiga belas tingkatan berjihad di jalan Allah. Orang yang paling sempurna tentu saja yang dapat melakaukan tingkatan-tingkatan jihad itu secara sempurna. Akan tetapi, manusia diciptakan berbeda-beda, baik kedudukannya di sisi Allah, maupun kemampuannya dalam berjihad.

Kata jihâd di dalam al-Qur’an dan Sunnah

Kata jihâd di dalam al-Qur’an dengan berbagai derivannya, muncul tiga puluh satu kali, sedangkan kata harb (‘perang’) muncul hanya empat kali. Dari penelusuran kata jihâd di dalam al-Qur’an dan Hadis, diketahui bahwa kata itu memiliki cakupan makna yang lebih luas dan lebih umum daripada kata qitâl (‘perang’, ‘peperangan’). Sebab, kata qitâl lebih menunjukkan arti berhadap-hadapan dengan senjata di medan perang (al-muwâjahah al-musallahah fî al-hurûb), sementara kata jihâd lebih berati berjuang menghadapi musuh, baik musuh itu berupa individu yang melampaui batas atau melakukan serangan, atau berupa setan yang harus dilawan oleh setiap orang mukmin, atau bahkan berupa hawa nafsunya sendiri yang menghiasi sesuatu yang buruk sehingga tampak indah.

Selain bahwa makna jihâd itu bermacam-macam, sarananya pun bermacam-macam pula. Ada jihad dengan mengorbankan jiwa, ada jihad dengan harta benda, ada jihad dengan kata-kata, dalam arti dengan menunjukkan hujjah, bukti kebenaran, atau dengan al-Qur’an. Jihad dengan kata-kata ini berlaku dalam hal menjelaskan agama Islam dan mengajak orang untuk mengerti Islam. Itu semua adalah macam-macam jihad yang disebut di dalam al-Qur’an maupun Hadis Nabi saw.

Di antara ayat al-Qur’an yang mengungkapkan kata jihâd dengan makna-makna tersebut di atas adalah firman Allah swt.: Maka janganlah engkau taati orang-orang kafir, dan berjuanglah terhadap mereka dengannya (al-Qur’an) dengan (semangat) perjuangan yang benar. (QS Al-Furqân [25]: 52).

Nabi Muhammad saw. sendiri menamakan aktivitas berjuang melawan hawa nafsu dan melawan setan sebagai perjuangan yang besar (al-jihâd al-akbar) jika dibandingkan dengan perang yang disebut sebagai perjuangan yang kecil (al-jihâd al-ashghar). Di antara hadis-hadis terkait hal ini adalah sebagai berikut:

Sabda beliau, “Jihad yang paling utama adalah perjuangan seseorang melawan diri dan hawa nafsunya.”

Juga sabda beliau yang lain, “Seorang pejuang (mujâhid) adalah orang yang berjuang melawan hawa nafsunya.”

Sabda lainnya, “Berjuanglah melawan hawa nafsumu sebagaimana kamu melawan berjuang melawan musuh-musuh kamu.”

Di sini, perlu kiranya kita ketahui bahwa berjihad yang dilakukan dengan mengorbankan jiwa atau harta benda (seperti berjuang dalam perang dengan mengorbankan jiwa atau dengan mendanai pasukan tentara, misalnya), itu tidak berlaku begitu saja tanpa syarat. Al-Qur’an mensyaratkan perjuangan seperti itu adalah perjuangan yang dilakukan di jalan Allah (al-jihâd fî sabîlillâh), dan perjuangan demi agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi. Hal ini mengajak kita sejak dini kepada sebuah kaidah sangat mendasar di dalam Islam, yaitu keharusan keterkaitan jihad dengan tujuan-tujuan kemanusiaan yang mulia. Dengan kata lain, jihad di dalam Islam tidak disyariatkan untuk memperluas wilayah kekuasaan, atau untuk menjajah tanah orang lain, atau untuk menguasai sumber-sumber daya alam masyarakat atau bangsa lain, atau untuk merendahkan bangsa lain, dan berbagai bentuk tujuan materi rendahan lainnya yang sering kali justru menjadi faktor pendorong peperangan yang terjadi dalam sejarah peradaban manusia.

Meski demikian, yakni meski kata jihâd di dalam al-Qur’an digunakan untuk beragam makna seperti dikemukakan sebelumnya, penggunaan kata jihâd untuk makna perang adalah lebih sering dan lebih popular dalam literatur-literatur keislaman.

Jihâd dan Perang

Jihâd tidak identik dengan perang, apa pun latar belakang yang memicu dan menjadi tujuan perang itu. Jihâd adalah perang yang dilakukan di jalan Allah saja. Jika perang itu keluar dari koridor “di jalan Allah”, maka ketika itu ia tidak lagi disebut jihâd, melainkan telah berubah menjadi perbuatan buruk yang tidak dibenarkan oleh syariat dan etika Islam.

Dari sini kiranya kita dapat memahami pengertian jihâd, yaitu perang di jalan Allah, baik dengan cara turun langsung dalam pasukan militer, atau dengan cara membantu pendanaan perang, atau dengan pikiran dan pendapat, atau dengan memberi layanan kesehatan, atau dengan cara lain yang ditujukan untuk mempertahankan akidah dan tanah air.

Namun demikian, kita perlu membedakan antara dua kata yang jika tidak kita pahami dengan benar dapat berakibat salah dalam menafsirkan kata jihâd dalam arti berjuang di jalan Allah. Kedua kata itu adalah al-qatl dan al-qitâl. Kedua kata ini memiliki perbedaan makna cukup tajam. Kata al-qatl adalah melakukan serangan dengan senjata kepada orang lain dan membunuhnya (mubâdarat al-âkhar bi as-silâh wa qatluhu). Di sini hanya ada dua pihak, yaitu pihak yang membunuh di satu sisi, dan pihak yang dibunuh di sisi lain. Ini berbeda dengan makna kata al-qitâl di mana ada dua pihak yang saling membunuh satu sama lain, dan masing-masing melakukan aktivitas yang dapat membunuh pihak lain. Makna yang dikandung oleh kata jihâd dalam arti perang adalah makna yang kedua, yakni makna yang dikandung oleh kata al-qitâl, bukan makna yang pertama yaitu al-qatl.

Kesimpulan dari analisis bahasa ini adalah bahwa perintah untuk berjihad tidak berarti perintah untuk membunuh, tetapi lebih berarti perintah untuk turun ke medan laga untuk saling membunuh dalam peperangan demi melawan atau menghentikan serangan.

Makna jihâd dalam arti mempertahankan diri ini adalah penamaan Islam yang sangat tinggi nilainya. Saat ini kita mengenal istilah “kementerian pertahanan” (wizârat ad-difâ‘) yang pada masa yang tidak terlalu lama disebut dengan istilah “kementerian perang” (wizârat al-harbiyyah), atau “dewan tinggi peperangan” (al-majâlis al-‘ulyâ li al-harb). Mirip dengan istilah “kementerian perang” adalah istilah apa yang kita kenal dalam peradaban Barat dengan istilah “kementerian wilayah-wilayah jajahan” (wizârat al-musta‘marât). Nama-nama atau istilah-istilah seperti itu mengesankan adanya rasa takut dan permusuhan. Meski demikian, tidak ada seorang pun yang mencabut kebebasan hak negara-negara yang menamakan kementeriannya dengan “kementerian perang” atau “kementerian pertahanan”, sebagaimana yang kita baca dalam kritik tidak adil yang dilontarkan oleh Anglo-Amerika terhadap konsep jihâd di dalam Islam.

Menurut kami, kata jihâd lebih terhormat dan lebih mengandung dimensi kemanusiaan daripada istilah “kementerian perang”, misalnya. Sebab dalam syariat Islam, kata “perang” (harb) bisa berlaku untuk perang yang bersifat agresif, bisa pula berlaku untuk perang yang bersifat difensif. Ini berbeda dengan kata jihâd yang, bagi orang yang mengerti bahasa Arab dengan baik, lebih mengandung arti perang yang bersifat difensif.

Jadi, kewajiban untuk berjihad dalam Islam –yang oleh Barat sering kali didistorsi maknanya– tidak lain adalah hak untuk mempertahankan diri, mempertahankan akidah, dan mempertahankan tanah air. Saya kira tidak ada seorang pun yang berakal sehat akan mencabut hak seperti ini dari orang lain, kecuali jika mereka termasuk kelompok neo-sofis yang menyalahgunakan akal dan sesuatu yang sudah menjadi aksioma. (Bersambung)

***

ARTIKEL KEISLAMAN

IMAGE MENGHADANG EKTSRIMISME DAN TERORISME ; Prakata Grand Syaikh
Wednesday, 28 January 2015
SAMBUTAN GRAND SYAIKH AL-AZHAR PROF. DR. AHMED AT-THAYYIBDalam Pembukaan Konferensi Al-Azhar:MENGHADANG EKTSRIMISME DAN TERORISME Segala puji bagi Allah. Salawat, kedamaian, dan keberkahan semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasulullah Saw, keluarga, dan para sahabatnya. Assalamu’alaikum Wr....
IMAGE Nalar Takfir dan Kaum Takfiri Baru
Thursday, 03 July 2014
Hasil Kajian Terbaru Dar al-Ifta’ Mesir:Lembaga Fatwa Negara Republik Arab Mesir (Dar al-Ifta’ al-Mashriyyah) menegaskan bahwa nalar takfir adalah cara berpikir lama yang akhir-akhir ini muncul kembali di tengah-tengah kita dengan wajah baru. Kini ia mencuat kembali ke permukaan seiring dengan...
IMAGE Konsep Jihad dalam Islam (Bagian III)
Saturday, 01 March 2014
Perdamaian adalah Dasar Hubungan Internasional bagi Umat Islam Dengan demikian, jihâd disyariatkan untuk maksud pertahanan, bukan untuk menginisiasi atau memulai perang. Dan ini merupakan konsekuensi logis dari falsafah al-Qur’an mengenai keberagaman (pluralitas) agama, warna kulit, bahasa,...
IMAGE Konsep Jihad dalam Islam (Bagian I)
Thursday, 27 February 2014
Prof. Dr. Ahmed el-Tayeb, Syaikh Al-AzharPengantar Jihad (Arab: jihâd) memiliki keutamaan yang besar dalam Islam dan mencakup semua aspek kehidupan. Hanya saja, memang, terdapat perbedaan pendapat tentang konsep dan makna terma jihâd di dalam Islam. Artikel ini berupaya menjawab...
IMAGE ISLAM DAN INTRIK POLITIK
Tuesday, 25 February 2014
Barangkali tidaklah berlebihan jika penulis katakan, saat ini kita perlu mengingat kembali ungkapan terkenal Syaikh Mohammad Abduh dalam bukunya : Islam dan Kekristenan (al-Islam wa al-Nashraniyyah). Dalam buku tersebut, Abduh menyatakan : “Aku berlindung kepada Allah dari politik, dari kata dan...
IMAGE ETIKA BERBEDA PENDAPAT: Teladan Rasulullah Saw.
Tuesday, 23 July 2013
Di tengah maraknya perbedaan-perbedaan pendapat pada zaman sekarang ini, kita perlu senantiasa menerapkan etika berbeda pendapat. Rasulullah Saw. dan para sahabatnya yang mulia—semoga Allah Swt. meridhai mereka semua— telah memberikan teladan kepada kita bagaimana cara menyikapi perbedaan...
IMAGE TERORISME TAK LAHIR DARI ISLAM
Thursday, 13 June 2013
Munculnya fenomena Islam-fobia di beberapa kalangan sesungguhnya diakibatkan karena minimnya pengetahuan dan dangkalnya pemahaman mereka tentang Islam. Mereka tidak memahami bahwa Islam itu bukan agama yang statis (jumud) dan bahwa hidup berislam bukan berarti kembali ke model kehidupan abad...

Profil IAAI Indonesia

Hubungi Kami

 

Alamat Kantor

Kampus II PSQ Jl. Raya Ring Road Selatan, South City. Pondok Cabe. Tangerang Selatan. Kode Pos 15418

Telpon : +6281585993344   +6282260099292
Email : info@waag-azhar.or.id
Website : www.waag-azhar.or.id
  : www.maba.waag-azhar.or.id
  : www.conference.waag-azhar.or.id
Go to top