Perdamaian adalah Dasar Hubungan Internasional bagi Umat Islam

Dengan demikian, jihâd disyariatkan untuk maksud pertahanan, bukan untuk menginisiasi atau memulai perang. Dan ini merupakan konsekuensi logis dari falsafah al-Qur’an mengenai keberagaman (pluralitas) agama, warna kulit, bahasa, etnik dan sebagainya, pada umat manusia. Kita semua tentu saja pernah membaca di dalam al-Qur’an bahwa seandainya Allah berkehendak untuk menciptakan semua manusia berada dalam satu agama, satu akidah, dan satu bahasa, Dia tentu Mahakuasa untuk melakukannya. Tetapi Dia tidak berkehendak untuk itu. Allah justru menghendaki adanya perbedaan dan keragaman.

Baik ayat-ayat al-Qur’an maupun sabda Rasulullah saw. menginformasikan kepada kita bahwa perbedaan agama dan keyakinan telah terjadi dan terus akan terjadi sampai hari Kiamat. Kita lihat, misalnya, firman Allah swt.: Dan seandainya Tuhanmu berkehendak, tentu Dia menjadikan manusia satu umat, tetapi mereka terus akan berbeda. (QS Hûd [11]: 118).

Bagi kita, umat Islam, pluralitas yang ada pada umat manusia dalam hal-hal tersebut adalah kehendak Ilahi pada sepanjang waktu dan di segala tempat. Dari situ, al-Qur’an mengajak umat manusia kepada suatu kenyataan lain, yaitu bahwa selama manusia diciptakan berbeda-beda, maka hubungan yang harus dibangun di antara mereka adalah hubungan saling kenal, hubungan saling bersahabat, dan hubungan saling melengkapi satu sama lain. Inilah yang dinyatakan oleh firman Allah swt.: Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. (QS al-Hujurât [49]: 13).

Kenyataan kedua yang merupakan konsekuensi logis dari kenyataan-kenyataan sebelumnya, adalah penegasan akan tidak adanya paksaan dalam beragama sebagaimana firman Allah pada ayat-ayat berikut: Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). (QS al-Baqarah [2]: 256), di samping menegaskan bahwa tugas seorang nabi menurut Islam tidak lain kecuali sebagai pemberi peringatan: Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka (QS al-Ghâsyiyah [88]: 21-22); Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman? (QS Yûnus [10]: 99); Dan engkau (Muhammad) bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka berilah peringatan dengan al-Qur’an kepada siapa pun yang takut kepada ancaman-Ku (QS Qâf [50]: 45; Jika mereka berpaling, maka (ingatlah) Kami tidak mengutus engkau sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). (QS asy-Syûrâ [42]: 48).

Dengan demikian, dalam konstruksi pengetahuan Islam tidak ada tempat bagi kemungkinan memaksakan kepercayaan kepada orang lain, baik pemaksaan itu bersifat literer (adabiy) maupun bersifat materi (mâddiy). Bahkan, dalam falsafah Islam tidak ada tempat untuk menjual keimanan demi kepentingan-kepentingan tertentu. Tidak ada tempat untuk mengeksploitasi kebutuhan orang. Dari sini, Islam tidak mengakui praktik tabsyîr (yang sering diterjemahkan dengan kristenisasi) yang membarter akidah dengan pelayanan. Islam juga tidak mengakui keimanan yang diperoleh melalui kilauan pedang atau kilauan harta. Cara-cara seperti itu merupakan cara yang tidak benar untuk menganut sebuah keyakinan.

Faktor Umat Islam Memerangi Non-Muslim: Permusuhan atau Kekufuran?

Di sini muncul pertanyaan yang sangat penting: apa sebenarnya yang menjadikan perang melawan non-Muslim itu dibolehkan bagi umat Islam? Apakah alasan itu adalah adanya sikap permusuhan, atau sikap kufur dalam arti menolak untuk mengakui ajaran Islam?

Mayoritas ulama, tentu berdasar pada ayat-ayat al-Qur’an dan sejarah interaksi Nabi Muhammad saw. bersama non-Muslim, memberikan jawaban bahwa pada hakikatnya sikap memusuhi yang ditunjukkan oleh orang-orang non-Muslim itulah yang menjadi faktor penyebab bolehnya perang. Sedangkan sikap kufur –yakni tidak menerima ajaran Islam– bukan menjadi alasan bagi umat Islam untuk memerangi pihak lain. Dan itu tidak mungkin. Sebab, al-Qur’an yang sudah menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan melalui firman Allah: Barangsiapa menghendaki (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir) biarlahdia kafir. (QS al-Kahf [18]: 29), itu mustahil pada saat yang sama membolehkan memerangi orang-orang non-Muslim demi memasukkan mereka ke dalam agama Islam. Jika itu terjadi, maka berarti al-Qur’an telah terjadi kontradiksi antar satu ayat dengan ayat al-Qur’an. Bahkan musuh-musuh al-Qur’an yang melakukan penelitian terhadap al-Qur’an pun tidak berhasil menemukan aib seperti itu. Jadi, sikap damai itulah yang menjadi dasar hubungan antara Muslim dan non-Muslim. Inilah yang secara sangat jelas kita temukan di dalam al-Qur’an: Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (QS al-Mumtahanah [60]: 8).

Memang ada beberapa pendapat dalam bidang fikih yang memahami, secara keliru, bahwa kafirnya seseorang membolehkan ia dibunuh atau diperangi. Pendapat janggal itu mengatakan bahwa umat Islam boleh memerangi orang-orang non-Muslim untuk mengajak mereka memeluk Islam atau, kalau tidak, mereka tetap memeluk agamanya dengan kewajiban membayar jizyah. Tetapi pendapat seperti ini mendapat kritikan sangat keras dari mayoritas ulama, terutama jika dikaitkan dengan sekian banyak ayat al-Qur’an dan sejarah peperangan yang terjadi dan diikuti oleh Rasulullah saw. melawan musuh. Perang-perang itu lebih merupakan upaya mempertahankan diri seperti telah dibuktikan oleh sejarah. Di antara hal yang menunjukkan bahwa pendapat sebagian ulama fikih di atas itu keliru adalah bahwa Islam, ketika membolehkan perang, melarang membunuh anak-anak, kaum perempuan, orang tua, pendeta, orang buta, orang lumpuh, dan orang yang bekerja di pihak musuh. Sebab, tidak bisa kita bayangkan orang-orang seperti mereka itu akan melakukan perang atau perlawanan. Oleh karena itu, haram hukumnya membunuh mereka walaupun mereka dalam keadaan kafir. Seandainya kekufuran seseorang menjadi alasan bolehnya orang itu dibunuh datu diperangi, tentu Islam membolehkan umatnya membunuh orang-orang lemah seperti disebut di atas.

Beberapa Fakta tentang Jihad

1. Tidak benar kalau dikatakan bahwa Islam adalah agama pedang seperti sering kali kita temukan dalam tulisan-tulisan sebagian orang Barat yang memang bermaksud mendistorsi ajaran dan sejarah peradaban Islam. Banyak hal yang bisa kita ungkapkan dalam kaitan ini, tetapi saya hanya akan mengatakan bahwa Kitab Suci al-Qur’an yang menjamin kebebasan beragama dalam banyak ayatnya, tidak mungkin pada saat yang sama membenarkan umatnya menggunakan kekerasan dan senjata dalam menyebarkan ajaran Islam. Tidak ada jalan lain dalam berdakwah mengajak orang lain kepada Islam selain jalan persuasif dengan dalil dan bukti-bukti kebenaran.

Perlu kiranya diungkapkan di sini bahwa ketika kita membandingkan al-Qur’an dengan kitab suci samawi lainnya, kita sama sekali tidak menemukan kata sayf (pedang) disebut di dalam ayat-ayat al-Qur’an. Al-Qur’an tidak mengenal istilah sayf. Hal ini akan semakin membuat kita tercengang ketika kita mengaitkan turunnya al-Qur’an pada masyarakat Arab itu terjadi pada saat pedang menjadi simbol keberanian dan kepahlawanan seseorang maupun suku-suku Arab. Ini akan sangat berbeda dengan, misalnya, Sifir Yasyû‘ (Kitab Yosua), salah satu kitab dalam Perjanjian Lama, di mana kata “pedang” disebut sebanyak tiga belas kali!

Begitu juga ayat-ayat yang menyuruh orang Yahudi untuk membakar kampung dan kota yang mereka kuasai, menyuruh membunuh setiap yang di dalamnya dengan pedang, baik manusianya, hewannya, maupun tumbuh-tumbuhannya. Itu semua tidak ada di dalam al-Qur’an! Sementara, dalam Kitab Perjanjian Baru, kita menemukan teks yang sangat jelas berupa –kata mereka– ungkapan Nabi Isa as., “Jangan kamu menyangka bahwa aku datang untuk membawa damai di muka bumi. Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” (Injil Matius 10: 34).

Kini kita tinggal bertanya: kitab suci mana yang lebih mengandung rahmat kasih sayang bagi alam semesta? Apakah kitab suCi yang memuat kata “pedang” puluhan kali, yang menyuruh umatnya membakar manusia dengan api, yang menyuruh umatnya membunuh hewan dan binatang melata yang tak bersalah, atau kitab suci yang sama sekali tidak memuat kata-kata keji yang menakutkan jiwa itu?

2. Tidak benar kalau dikatakan bahwa umat Islam suka perang, haus perang. Justru sebaliknya. Al-Qur’an penuh dengan ayat yang menyerukan perdamaian, yang meminta kita untuk mencari berbagai cara untuk mencegah umat dari perang. Rasulullah saw. bersabda, “Jangan kamu berharap menemui musuh, dan mintalah kepada Allah al-‘âfiyah.” Beliau juga pernah bersabda, “Tinggalkan orang-orang Habasyah selama mereka meninggalkan kamu, dan biarkan mereka selama mereka membiarkan kamu.”

Kenyataan ini menunjukkan bahwa umat Islam tidak pernah memerangi Habasyah, dan tidak pernah terlibat perang dengan orang-orang Habasyah, padahal secara geografis Habasyah sangat berdekatan dengan tanah Arab. Umat Islam tahu benar siapa orang-orang Habasyah itu. Meski demikian, mereka tidak memerangi penduduk Habasyah dan tidak pernah menjajah Habasyah. Sementara, di sisi lain, umat Islam justru terlibat perang dengan suku Quraisy Mekkah, dengan bangsa Persia, dengan bangsa Romawi, karena suku dan bangsa-bangsa itu menunjukkan sikap permusuhan terhadap umat Islam. Mereka merupakan ancaman besar bagi terbentuknya negara Muslim, sementara Habasyah lebih bersikap netral dan tidak menunjukkan permusuhan.

3. Dalam ajaran Islam, perang harus dilandasi dengan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai moral yang tinggi yang bahkan sampai dengan peperangan yang terjadi pada abad ke-21 ini sangat sulit kita temukan nilai-nilai seperti itu. Sekali lagi, akan sangat panjang kalau kita menguraikan bagaimana umat Islam berpegang teguh pada nilai-nilai moral yang begitu mulia ketika mereka berperang melawan musuh. Tetapi saya hanya akan mengemukakan bahwa umat Islam sangat mengerti dan memahami ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw., di mana beliau memerintahkan komandan-komandan perang untuk tidak membunuh bayi, anak kecil, perempuan, orang yang sudah tua, dan orang-orang lemah lainnya. Rasulullah saw. juga melarang merobek atau menghancurkan jasad korban perang dari pihak musuh. Para pemimpin dan pasukan tentara Muslim sangat hafal dan memahami benar aturan perang yang ditetapkan oleh Rasulullah saw. itu: “Jangan berkhianat, jangan merobek-robek jasad korban perang, jangan membunuh anak-anak kecil, orang tua, dan perempuan, jangan merusak tanaman kurma, jangan pula membakarnya, dan jangan memotong pohon yang sedang berbuah. Jangan pula menyembelih hewan seperti kambing maupun sapi kecuali untuk untuk dikonsumsi. Kamu akan menemukan kaum yang mengkhususkan diri beribadah di dalam biara-biara dan rumah-rumah ibadah, biarkan mereka.”

4. Sebenarnya rahasia di balik suksesnya penyebaran agama Islam dengan begitu cepat, yang sering disembunyikan pihak musuh, justru adalah karena agama ini sangat sederhana dalam hal akidah dan sangat bermoral dalam ketentuan hukum dan syariatnya. Bukti paling kuat bahwa Islam tidak tersebar melalui kekerasan adalah penyebaran Islam dewasa ini di tengah-tengah masyarakat Eropa dan Amerika. Jutaan orang di sana akhir-akhir ini memeluk Islam sehingga sempat membuat khawatir sebagian kalangan politik dan gereja. Lalu, di mana pedang itu? Di mana kekerasan yang memaksa orang-orang Eropa dan Amerika untuk beralih dari agamanya dan memilih Islam? Tidak ada!

Ini belum lagi kalau kita hubungkan bahwa penyebaran Islam di sana itu tidak terjadi dengan pendekatan tabsyîr yang dilakukan oleh gereja-gereja Eropa dengan dana miliaran demi mengalihkan orang Islam untuk memeluk Kristen. Islam hanya mengakui cara persuasif, melalui pendekatan akal, melalui pendekatan bukti-bukti kebenaran. Kalau bukan karena keterbatasan ruang, tentu kita akan mengemukakan di sini ungkapan dan pengakuan orang-orang Barat yang moderat tentang kebenaran apa-apa yang saya kemukakan dalam artikel ini.***

(Hak terjemah ada pada IAAI Indonesia)

ARTIKEL KEISLAMAN

IMAGE MENGHADANG EKTSRIMISME DAN TERORISME ; Prakata Grand Syaikh
Wednesday, 28 January 2015
SAMBUTAN GRAND SYAIKH AL-AZHAR PROF. DR. AHMED AT-THAYYIBDalam Pembukaan Konferensi Al-Azhar:MENGHADANG EKTSRIMISME DAN TERORISME Segala puji bagi Allah. Salawat, kedamaian, dan keberkahan semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasulullah Saw, keluarga, dan para sahabatnya. Assalamu’alaikum Wr....
IMAGE Nalar Takfir dan Kaum Takfiri Baru
Thursday, 03 July 2014
Hasil Kajian Terbaru Dar al-Ifta’ Mesir:Lembaga Fatwa Negara Republik Arab Mesir (Dar al-Ifta’ al-Mashriyyah) menegaskan bahwa nalar takfir adalah cara berpikir lama yang akhir-akhir ini muncul kembali di tengah-tengah kita dengan wajah baru. Kini ia mencuat kembali ke permukaan seiring dengan...
IMAGE Konsep Jihad dalam Islam (Bagian III)
Saturday, 01 March 2014
Perdamaian adalah Dasar Hubungan Internasional bagi Umat Islam Dengan demikian, jihâd disyariatkan untuk maksud pertahanan, bukan untuk menginisiasi atau memulai perang. Dan ini merupakan konsekuensi logis dari falsafah al-Qur’an mengenai keberagaman (pluralitas) agama, warna kulit, bahasa,...
IMAGE Konsep Jihad dalam Islam (Bagian I)
Thursday, 27 February 2014
Prof. Dr. Ahmed el-Tayeb, Syaikh Al-AzharPengantar Jihad (Arab: jihâd) memiliki keutamaan yang besar dalam Islam dan mencakup semua aspek kehidupan. Hanya saja, memang, terdapat perbedaan pendapat tentang konsep dan makna terma jihâd di dalam Islam. Artikel ini berupaya menjawab...
IMAGE ISLAM DAN INTRIK POLITIK
Tuesday, 25 February 2014
Barangkali tidaklah berlebihan jika penulis katakan, saat ini kita perlu mengingat kembali ungkapan terkenal Syaikh Mohammad Abduh dalam bukunya : Islam dan Kekristenan (al-Islam wa al-Nashraniyyah). Dalam buku tersebut, Abduh menyatakan : “Aku berlindung kepada Allah dari politik, dari kata dan...
IMAGE ETIKA BERBEDA PENDAPAT: Teladan Rasulullah Saw.
Tuesday, 23 July 2013
Di tengah maraknya perbedaan-perbedaan pendapat pada zaman sekarang ini, kita perlu senantiasa menerapkan etika berbeda pendapat. Rasulullah Saw. dan para sahabatnya yang mulia—semoga Allah Swt. meridhai mereka semua— telah memberikan teladan kepada kita bagaimana cara menyikapi perbedaan...
IMAGE TERORISME TAK LAHIR DARI ISLAM
Thursday, 13 June 2013
Munculnya fenomena Islam-fobia di beberapa kalangan sesungguhnya diakibatkan karena minimnya pengetahuan dan dangkalnya pemahaman mereka tentang Islam. Mereka tidak memahami bahwa Islam itu bukan agama yang statis (jumud) dan bahwa hidup berislam bukan berarti kembali ke model kehidupan abad...

Profil IAAI Indonesia

Hubungi Kami

 

Alamat Kantor

Kampus II PSQ Jl. Raya Ring Road Selatan, South City. Pondok Cabe. Tangerang Selatan. Kode Pos 15418

Telpon : +6281585993344   +6282260099292
Email : info@waag-azhar.or.id
Website : www.waag-azhar.or.id
  : www.maba.waag-azhar.or.id
  : www.conference.waag-azhar.or.id
Go to top