Dunia Arab saat ini menghadapi krisis keamanan dan konflik politik yang belum pernah terjadi di masa lalu. Kondisi tersebut disebabkan munculnya kelompok-kelompok ektrimis yang menggunakan kekerasan dan teror untuk meraih tujuannya. Mereka melecehkan kesucian agama,menginjak kehormatan dan merampas hak-hak rakyat. Semua itu mereka lakukan dengan mengatasnamakan agama, padahal agama sama sekali tidak mengajarkan hal seperti itu.

Untuk menyikapi hal tersebut, sebagai lembaga keagamaan yang menjadi rujukan umat Islam di seluruh dunia, Al-Azhar dituntut memberikan penjelasan tentang konsep-konsep agama yang selama ini disalahgunakan oleh kelompok ekstrimis untuk menjustifikasi tindakan teror mereka. Al-Azhar harus dengan lantang menyatakan bahwa Islam anti ekterimisme dan terorisme dalam segala bentuknya.

Dalam rangka memenuhi tuntutan tersebut, atas prakarsa Al-Azhar as-Syarif yang dipimpin oleh Grand Syaikh, Prof. Dr. Ahmed at-Thayyib, diselenggarakan Konferensi Internasional pada Rabu dan Kamis, 11-12 Shafar 1436 H/03-04 Desember 2014 M, di kota Cairo, Republik Arab Mesir. Konferensi tersebut dihadiri oleh para pemimpin organisasi dan tokoh mazhab-mazhab Islam, pemimpin gereja-gereja timur, serta para cendekiawan Muslim dan non-Muslim dari berbagai belahan dunia.

Setelah berdiskusi selama dua hari, para peserta Konferensi bersepakat untuk merumuskan sebuah pernyataan bersama yang diberi nama Resolusi Internasional Al-Azhar, yang berisi hal-hal sebagai berikut:

1. Semua kelompok-kelompok bersenjata dan milisi-milisi sektarian yang melakukan tindak kekerasan terhadap rakyat dengan dalih-dalih keagamaan adalah kelompok-kelompok yang memiliki pemikiran buruk dan tindakan menyimpang dari kebenaran. Pemikiran dan tindakan mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam yang benar. Melakukan tindakan teror, membunuh rakyat tak berdosa, merampas harta, dan menginjak-injak kesucian agama adalah kejahatan kemanusiaan yang dikutuk oleh Islam. Demikian pula tindakan memecah-belah umat dan mengoyak persatuan bangsa merupakan tindakan yang dapat menimbulkan citra buruk Islam di hadapan dunia.

Tindakan-tindakan semacam itu bukan hanya bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang benar, namun juga menodai Islam itu sendiri yang hakikatnya adalah agama yang cinta damai, cinta keadilan, kebaikan, persatuan dan persaudaraan sesama manusia.

2. Menegaskan bahwa kaum Muslim dan kaum Kristen di belahan dunia Timur adalah bersaudara. Mereka berafiliasi pada peradaban dan komunitas yang sama. Mereka juga telah hidup berdampingan selama berabad-abad, dan berkomitmen untuk terus hidup berdampiingan di negara-negara yang merdeka dan berdaulat, mewujudkan kesetaraan sesama warga Negara, dan menghormati kebebasan.

Sesungguhnya pluralitas agama dan mazhab bukan sesuatu yang baru terjadi dalam sejarah kita. Pluralitas telah ada sejak dahulu dan akan tetap menjadi bagian dari kekayaaan mereka dan dunia, serta akan tercatat dalam lembar-lembar sejarah.

Hubungan antara kaum Muslim dan kaum Kristen adalah hubungan yang menyejarah, dipenuhi dengan pengalaman hidup saling berbagi dan saling menguntungkan. Kita memiliki pengalaman yang patut dicontoh, baik di Mesir maupun di beberapa negara Arab lainnya. Pengalaman tersebut terus kita kembangkan menuju perwujudan konsep kewarganegaraan yang sempurna, baik dalam hak maupun kewajiban masing-masing. Karena itu, setiap upaya mengganggu kaum Kristen dan penganut keyakinan atau agama-agama lain dengan dalih-dalih keagamaan merupakan penyimpangan dari tuntunan Nabi Saw. dan ajaran agama yang benar, selain juga pelanggaran terhadap hak-hak berbangsa dan bernegara.

3. Tindakan pengusiran kaum Kristen dan penganut agama-agama lainnya oleh gerakan-gerakan keagamaan dan etnis tertentu adalah tindakan kriminal yang tidak dapat dibenarkan. Kita semua mengutuk tindakan tersebut. Dan kami mengajak saudara-saudara kami, kaum Kristen, untuk semakin memperteguh posisinya sebagai warga negara, sehingga gelombang ekstrimisme tak dapat lagi mengganggu kita. Sebagaimana kami juga meminta negara-negara di dunia agar tidak mempermudah proses pemberian suaka, karena hal itu dapat menguntungkan pihak-pihak yang menginginkan pengusiran paksa terhadap kelompok lain dan pihak-pihak yang bertujuan mengacaukan dan memecah-belah masyarakat kita.

4. Tindakan kekerasan dan teror yang dilakukan oleh sekelompok gerakan ekstrim telah dimanfaatkan oleh sebagian pemimpin, cendekiawan, dan media di Barat untuk menyebarkan berita bohong dan citra buruk tentang Islam. Untuk menghadapi fenomena negatif tersebut, peserta Konferensi meminta para pemimpin dan cendekiawan Barat yang objektif untuk meluruskan kesan negatif tersebut dan menunjukkan kebenaran tentang Islam. Dengan demikian diharapkan Islam tidak akan dituduh dengan sesuatu yang tidak benar, dan tidak diidentikkan dengan tindakan kelompok-kelompok ekstrim yang justru ditentang keras oleh Islam.

5. Peserta Konferensi menyerukan adanya dialog internasional dalam rangka bekerja sama menciptakan perdamaian dan keadilan dengan tetap menghormati keragaman keyakinan, mazhab, dan suku. Selain itu juga berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memadamkan api permusuhan di tengah-tengah masyarakat.

6. Sebagian generasi muda umat ini telah dan masih mengalami proses "cuci otak" melalui pemahaman-pemahaman yang keliru terhadap teks-teks al-Qur'an, as-Sunnah, dan ijtihad para ulama, yang mengakibatkan mereka terjerumus pada gerakan terorisme. Karena itu, kewajiban para ulama dan cendekiawan untuk membimbing mereka kembali ke jalan yang benar melalui program pembinaan dan pengembangan wawasan untuk mengungkap pemahaman yang benar terhadap konsep-konsep Islam. Dengan demikian diharapkan mereka tidak akan lagi menjadi pengikut kelompok ekstrim dan pengumbar takfir.

Di antara konsep-konsep penting dalam Islam adalah konsep khilafah sebagaimana pada masa sahabat Nabi Saw. Pada saat itu, khilafah adalah sebuah sistem yang dibangun untuk kepentingan masyarakat dengan tujuan menjaga agama, mengatur dunia, dan mewujudkan keadilan di tengah masyarakat. Sistem pemerintahan dalam Islam didasarkan pada nilai-nilai keadilan, persamaan, dan penjaminan hak bagi setiap warga negara tanpa memandang warna kulit, etnis, dan keyakinan. Jadi setiap sistem pemerintahan yang berusaha mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan tersebut merupkan sistem yang legal dan direstui oleh syari'at Islam.

Begitu juga dengan konsep jihad. Dalam Islam, pengertian yang benar tentang jihad adalah membela diri dari serangan musuh. Sementara keputusan untuk berperang itu sepenuhnya menjadi wewenang pemerintah, bukan wewenang perorangan atau sebuah kelompok masyarakat manapun.

7. Meminta negara-negara Arab untuk meningkatkan kerja samanya dan mengembangkan bentuk kerja sama itu agar dapat mewujudkan stabilitas, keamanan, dan kemajuan. Jika saja negara-negara Arab ini membangun pasar ekonomi, perdagangan, perpajakan dan pertahan negara yang terintegrasi, maka akan terwujud pilar-pilar solidaritas di satu kawasan yang meliputi negara-negara berdaulat dengan ditopang satu strategi yang sama sehingga dapat menjaga sekaligus menjadi alat pertahanan negara-negara tersebut.

8. Peserta Konferensi meminta para ulama dan tokoh-tokoh agama di dunia Arab dan Islam untuk menjalankan tanggung jawab mereka yang telah dibebankan Allah dan sejarah untuk memadamkan api konflik antar mazhab dan etnis, terutama yang terjadi di Bahrain, Irak, Yaman, dan Syiria.

9. Mengutuk tindakan kekerasan dan teror yang dilakukan oleh tentara zionis di tanah Palestina, terutama di al-Quds yang mulia, yang mengakibatkan korban dari kalangan Muslim dan Kristen, selain merusak gereja dan masjid, khususnya masjid al-Aqsha. Peserta konferensi juga meminta masyarakat internasional turun tangan untuk menghentikan kekerasan tersebut dan membawa pelakunya ke pengadilan kejahatan internasional.

10. Peserta konferensi menegaskan bahwa kaum Muslim dan kaum Kristen di belahan dunia Timur memandang bahwa pencegahan terhadap kekerasan, ektrimisme dan terorieme dari manapun datangnya dan apapun tujuannya, merupakan tanggung jawab mereka semua.

Sebagai penutup, peserta Konferensi menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Al-Azhar as-Syarif, terutama Grand Syaikh Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmed at-Thayyib, atas prakarsanya untuk menyelenggarakan Konferensi yang penting ini. Peserta Konferensi juga menyampaikan terimakasih kepada Presiden, Pemerintah, dan semua rakyat Mesir, sembari berharap semoga Mesir sukses dalam menjalankan perannya sebagai lokomotif penanggulangan terorisme dan penjaga perdamaian dunia.

 

 

 

ARTIKEL KEAZHARAN

IMAGE Al-Azhar Adakan Pembekalan Alumni Bagi Mahasiswa Asing
Wednesday, 03 August 2016
Atdikcairo.org – Wakil Grand Syekh Al-Azhar, Prof. Dr. Abbas Shouman mengumumkan bahwa Al-Azhar akan mengadakan pembekalan intensif bagi para alumninya. Pelatihan selama dua bulan tersebut diadakan khusus untuk mahasiswa asing yang telah menyelesaikan program sarjananya di Universitas Al-Azhar...

Profil IAAI Indonesia

Hubungi Kami

 

Alamat Kantor

Kampus II PSQ Jl. Raya Ring Road Selatan, South City. Pondok Cabe. Tangerang Selatan. Kode Pos 15418

Telpon : +6281585993344   +6282260099292
Email : info@waag-azhar.or.id
Website : www.waag-azhar.or.id
  : www.maba.waag-azhar.or.id
  : www.conference.waag-azhar.or.id
Go to top